Cari Sesuatu?

Kamis, 04 Januari 2018

Memaknai Pulang saat Belum Waktunya

Buku yang saya baca waktu itu menjadi tidak menarik lagi saat jendela gerbong Kereta Api Menoreh tujuan Stasiun Pasar Senen menawarkan pemandangan yang saya kenal. Pola berjeda antara persawahan dan rumah-rumah sederhana, hingga simpang sebidang rel kereta api dengan Jalan Dr. Wahidin, Jalan Kartini, hingga Jalan KH. Mas Mansyur, adalah urutan yang sangat mudah dihafal, oleh siapapun yang sering pulang ke Pekalongan dengan kereta dari arah timur.

Saat kereta berhenti di Stasiun Besar Pekalongan, sejenak saya merasakan pulang. Padahal sejatinya itu hanya lewat. Namun kali ini saya menolak bila hal itu dikatakan sebagai mampir. Batin ingin dipuaskan dengan kata pulang walau kereta hanya berhenti dalam 5 menit.

Lima menit itulah juga yang membawa imajinasi saya kepada situasi kampus. Tempat saya berkuliah memang memberi kesempatan mahasiswanya untuk merasakan rindu yang lebih dari mahasiswa lain. Rindu pada orang rumah, begitupun kampung halaman. Bagaimana tidak jika setiap akhir semester, setelah Ujian Akhir Semester, kebanyakan mahasiswa tidak dapat segera pulang ke kampung halaman masing-masing. Mereka harus menyelesaikan tugas besar, yang kebanyakan adalah perancangan bangunan, hingga yudisium atau masa ketika nilai mata kuliah di release. (Wah, panjang juga paragraf ini).

Pergi adalah masa awal untuk menumpuk kerinduan. Seperti yang dilakukan kawan-kawan di kampus saya ketika berangkat ke Semarang, atau siapapun anda yang beranjak dari tempat semula ke tempat lain. Selebihnya dari itu, pulang, adalah masa kita untuk menumpahkan rindu yang tertumpuk selama pergi.

Kawan saya dalam post blognya menulis :
Ternyata bener, bagi sebagian orang, jarak justru bisa memperkuat cinta. -www.insinyur-kata.tumblr.com-
Saya setuju dan saya pikir tulisan itu tidak berlebihan. Saat pergi, justru cinta kita kepada apa yang ditinggalkan bisa semakin kuat. Seperti cinta saya ke kota batik itu, yang belum lebih dari enam tahun saya tempati. Namun harus berpindah lagi dengan alasan cita-cita, lalu hanya sesekali pulang setiap tahunnya. 

Tapi siapa yang bisa mengatur besarnya cinta? Bukannya lupa, malah cinta itu semakin membesar. Ada rasa yang beda ketika pulang, melihat lalu lalang becak, warung nasi megono, Monumen 3 Oktober 1945, apalagi lapangan Jatayu. Dulu yang tampak biasa saja, sekarang mereka seperti menyimpan cerita yang tiba-tiba membombardir pikiran ketika mata ini tidak sengaja menoleh ke tempat itu. Saya yakin itu bukan rindu biasa pada sebuah tempat. Jangan-jangan itu cinta.

*Gambar diambil dari kamera handphone sendiri

Kamis, 06 April 2017

Membuat Keputusan : Antara Berani atau Bodoh

Keputusan. Pasti semua orang pernah membuat keputusan. Sebelum ada keputusan, pasti ada pilihan. Misalkan kamu di warteg mau makan sama ayam atau sama ikan, mau minum air putih atau es teh. Secara tidak sadar segala hal yang kita lalui dari mulai bangun pagi sampai tidur lagi adalah keputusan yang kita buat untuk diri sendiri. 

Misal pagi hari sekitar jam 5 pagi, kita memutuskan bangun atau tidur lagi. Jam 7 pagi kita secara tidak sadar dituntut untuk memutuskan mau sarapan atau skip sarapan sampai jadwal makan siang. Jam 8 pagi kita juga dituntut untuk memutuskan mau berangkat kuliah atau tidak. Semua itu keputusan yang kita buat untuk diri sendiri. 
Ilustrasi diambil dari http://www.huffingtonpost.com

Dari keputusan ini juga muncul hal lain. Kadang puas dengan keputusan kita, kadang kecewa juga. Semua orang pasti pernah merasakannya. Baik itu skala kecil, maupun skala besar. Yang repot adalah ketika keputusanmu salah, tapi skala keputusan itu besar, ditambah keputusan itu melibatkan banyak orang. Otomatis tanggung jawab kita dituntut untuk memperbaiki kesalahan itu.

Berbagai keputusan yang kita pilih saya ringkas menjadi dua jenis keputusan yaitu :

BERANI
Kamu dapat pilihan, memutuskan pilihan mana yang kamu ambil, menjalankan keputusanmu, dan kamu menikmatinya. Hal itu baru yang dinamakan berani. Berani adalah ketika keputusan kita sudah dipertimbangkan matang-matang sehingga di akhir kita tidak menyesal. Berani adalah ketika kita menghadirkan logika dalam keputusan kita. Memangkas segala resiko yang mungkin muncul, jadi kita tidak kelabakan saat menjalani keputusan itu.

Orang-orang yang terkenal dan sukses adalah contoh orang yang saya maksud berani. Orang yang menikmati hidupnya karena keputusan yang dia buat juga saya sebut orang yang berani. Karena goal yang paling sering dikejar orang adalah kebahagiaan. Oh iya ngomong-ngomong njenengan tau kebahagiaan apa yang sejati di dunia ini?

BODOH
Kamu dapat pilihan, kamu cuma lihat kulitnya / nggak lihat keseluruhan pilihan tersebut, memutuskan, menjalani, dan belakangan kamu kewalahan. Hal itu saya namakan bodoh. Bisa jadi keputusan itu dibuat karena kita tidak menghitung dengan teliti apa akibat yang muncul kalau kita mengambil keputusan itu. Misal kamu memutuskan karena alasan pertemanan, memutuskan karena kamu tergiur sesuatu, dan sebagainya. Akhirnya kamu nggak nyaman sama keputusan yang kamu jalani. Sungguh kebodohan.

Kita semua pasti pernah bodoh. Salah mengambil keputusan adalah hal yang pernah dibuat oleh semua orang. Ada yang bodohnya cuma sekali, habis itu langsung berani. Ada juga yang bodohnya perlu berkali-kali baru sampai pada tahap berani. Nah itu saya contohnya. Hehehe

***

Ketika kita membuat keputusan, kita sesunggunya dihadapkan pada dua persepsi orang lain terhadap kita. Berani, atau Bodoh. Jadi pikirkan matang-matang sebelum kamu membuat keputusan apapun itu.

Selamat siang

Jumat, 20 Mei 2016

Bertemu Orang Banyak [Inilah Keuntungan kalau Punya Relasi Banyak]

Beberapa hari terakhir saya mengikuti kegiatan organisasi yang menuntut saya untuk bertemu banyak orang. Hal yang termasuk jarang di kehidupan kuliah saya ini. Entah kenapa, sikap ekstrovert yang biasa keluar spontan dari diri saya selama SMA pelan-pelan berkurang. Sekarang saya harus pilih-pilih untuk menunjukkan sikap asli saya yang ekstrovert. Belakangan saya baru tau bahwa itu kepribadian ambivert.

Bertemu Orang Banyak?
Ilustrasi Banyak Teman. Sumber: sebastienmillon.com
Yak, fokus pembahasan di catatan saya kali ini ya bertemu orang banyak. Banyak orang-orang menyebutnya relasi, networking, dan kata-kata model lain. Bertemu banyak orang lain adalah salah satu cara untuk menambah jaringan pertemanan atau networking (bahasa kerennya). Sebenarnya apa keuntungan jaringan pertemanan tersebut?

Singkat kata kemarin malam saya dapat kesempatan ngobrol-ngobrol dalam kelompok kecil bareng mas Dico, yang empunya Dokter Laptop di Semarang. Nah dari obrolan itulah beliau memberikan petuah-petuah gratis tentang pentingnya jaringan pertemanan. Sambil mengobrol santai, beberapa pesan dari mas Dico adalah :

Mempermudah Peluang Bisnis
Dengan latar belakang pebisnis atau pengusaha, mas Dico berkata kira-kira seperti ini: "Kalau banyak relasi, peluang bisnis bisa lebih gampang didapetin. Biasanya ide bisnis itu nggak sengaja muncul waktu kita ngobrol bareng teman. Banyak teman, banyak ngobrol, banyak rejeki." begitu katanya.

Menambah Pelanggan Usahamu
Masih dengan latar belakangnya sebagai pengusaha, mas Dico melanjutkan pembicaraannya. "Begitu juga kalau kamu sudah memiliki usha. Siapa orang yang pertama kali beli produk kamu? Pasti teman sendiri kan? Banyak teman, banyak pelanggan." katanya.

Tidak Tersesat Dimanapun
Nah sekarang beliau berbicara sebagai anggota dari Hipmi. "Kita kan sudah sama-sama ada di Hipmi. Nah jaringan Hipmi ini harus kita manfaatkan. Hipmi ini adalah jaringan yang luas, kalian ada dimanapun di seluruh Indonesia, tidak akan pernah tersesat. Tinggal kontak sama anggota Hipmi di daerah situ, aman kalian". Begitu katanya panjang lebar.

Banyak teman memang asik. Di internet juga banyak bahasan-bahasan yang bilang kalau punya banyak teman itu bagus. Ada yang bilang cita-citanya lebih cepat tercapai, memahami banyak sifat yang berbeda, lebih mudah menciptakan terobosan hidup, dan yang lain-lain. Bahkan kawan-kawan sendiri juga dapat menyebutkan apa keuntungan banyak teman


Jadi masih berpikir untuk punya teman sedikit saja?

Jumat, 01 April 2016

Why not Multitasking?

Waktu masih kecil dulu, pernahkah kawan-kawan bermain lup atau kaca pembesar? Itu lho, kaca bundar kaya lolipop yang sering dipakai detektif-detektif di TV buat cari jejak kaki. Jaman saya SD, mainan lup itu pernah populer dan banyak yang beli termasuk saya. Harganya sekitar 1000 rupiah kalau tidak salah.

Yang asik dari bermain lup itu adalah saat kita memfokuskan cahaya matahari agar bisa memunculkan api. Biasanya kita dulu pakai kertas yang sudah dicoret-coret sama pensil. Kadang juga hal itu kami praktekkan pada barisan semut sampai mereka terbakar juga. sungguh kejam.

Banyak motivator atau quote-quote gambar di jejaring sosial yang berkata bahwa kita harus fokus. "Bahkan sinar matahari yang difokuskan dapat membakar suatu benda kering atau mendidihkan air". katanya. Intinya kita harus fokus dalam mengerjakan sesuatu supaya dapat hasil yang memuaskan.
Ilustrasi Kaca Pembesar. Sumber : bhphotovideo.com

Apa sih multitasking?

Multitasking itu artinya kamu melakukan beberapa pekerjaan dalam satu waktu. Misal pada saat kamu makan, tangan kananmu megang sendok, tangan kirimu megang hape dan mbales chat grup. Atau saat kamu boker, tangan kiri kamu buat cebok, tangan kananmu megang hape buat scroll-scroll layar lihatin timeline.

Dua Tipe Orang

Saya nggak tau pasti, tapi menggeneralisir di kasus ini, saya mengelompokkan ada dua tipe orang. Yang satu tidak bisa kerja multitasking, yang satu lagi seorang heavy multitasker. Ya sekelas Heavy metal sama heavy rotation.

Di dunia maya sedikit banyak saya browsing, memang banyak pendapat berbeda-beda. Ada yang suka multitasking, ada yang nggak suka. Ada yang bilang menurut penelitian ini, menurut penelitian itu, entah yang nulis udah pernah baca penelitiannya atau belum. Ada juga yang copas, saya menemukan dua sampai tiga artikel yang sama persis. Kurang ajar.

Kelebihan dan kekurangan multitasking juga banyak kok di internet. Kawan-kawan bisa cari itu kalau ada waktu luang. Tulisan ini saya buat hanya untuk menegaskan bahwa saya ada di pihak mana. Hehehe

Multitasking itu Hemat Waktu, Tapi...

Yap, banyak multitasker di dunia ini bilang kalau cara kerja yang mereka lakukan ini dapat menghemat waktu. Misal saat kamu rapat dan bahasannya membosankan, kamu bisa sembunyi-sembunyi mendengarkan rapat sambil ngerjain tugas, atau chattingan sama pacar kamu. Atau waktu kamu lagi kuliah terus dosennya ngebosenin dan nggak begitu killer, kamu juga bisa curi-curi ngerjain laporan yang deadlinenya nanti sore. Cuma pertanyaannya apa cara seperti itu memang bisa menghemat waktu?

Mungkin sedikit bisa menghemat waktu, tapi menurut saya kalau dalam kondisi seperti itu berarti kita membagi dua fokus di otak kita. Dan hasilnya juga beda dengan orang yang benar-benar fokus kuliah / rapat. Lalu dilanjut dengan fokus mengerjakan tugas.

Misal orang yang ikut kuliah disambi mengerjakan tugas, hanya bisa menyerap 50% materi  kuliah, yang fokus mendengerkan kuliah bisa jadi menyerap 85% materi kuliah. Memang di awal nggak berasa. Tapi liat aja saat mendekati ujian. Kebanyakan multitasker pada minta belajar bareng sama si fokus. Itu nyata.

Bikin Fokus itu Susah, Tapi...

Memang fokus itu sulit, apalagi untuk orang yang biasa multitasking. Waktu mencoba mengerjakan satu hal yang sama, pasti pikirannya kemana-mana. Sebenarnya itu nggak papa, karena otak dan pikiran kita itu butuh penyesuaian. Dengan berfokus pada suatu pekerjaan, sebenarnya manfaat nyata yang kita rasakan yaitu pekerjaan bisa cepat selesai, daya ingat meningkat, gangguan saat pekerjaan minim. Tapi manfaat yang paling besar efeknya adalah :

Tahu Detail
Sumber : ytimg.com

Yap, mengetahui setiap detail dari tugas kita. Ini adalah hal yang nggak bakal didapatkan oleh para multitasker. Ketika kita fokus mengerjakan suatu tugas, kita cenderung menggali lebih dalam ke detail tugas itu. Nah dari situ kita secara nggak langsung belajar dan tahu hal-hal baru.

Fokus Saja

Multitasking terlihat sedap, tapi kedepannya pasti ada satu dua hal yang terlewatkan. Lebih baik fokus, kerjaan kita bisa cepat selesai dan masih ada waktu buat mengerjakan hal yang lain.

Selasa, 29 Maret 2016

Kamu Atau Orang Lain

Marionette : Sumber : 123rf.com
Di petang hari yang lelah, satu dua teguk air putih terasa segar seperti es degan. Langit di luar sedang bingung akankah turun hujan atau tidak. Di tembok berwarna hijau polos tersiar kisah sang boneka marionette sedang menari melompat-lompat dengan lincah. Jika orang lain bisa melihatnya pasti akan kagum. "Kok bisa ya bonekanya lincah seperti itu".

Beberapa menit berlalu, kelincahan si marionette berkurang. Pertama tangannya ke kiri, namun tiba-tiba dia memaksa kekanan. Kakinya bersiap melompat, tapi kemudian dengan sedikit perlawanan dari dirinya, dia gagal melompat. Saya sebagai penonton bingung. Ini kenapa?

Beberapa waktu lagi gerakan marionette semakin menggila. Terlihat tangannya bergerak seperti mencoba untuk memutus sebuah tali. Tapi tidak ada tali yang terlihat di layar. Sebentar kemudian terlihat gelagat marionette seperti berhasil memutuskan tali itu. 

Lalu dia berakting seperti memanjat tali, sampai di layar terlihat ada tangan besar dengan papan berbentuk silang yang turun seakan ditariknya. Marionette pun menghajar habis-habisan tangan itu hingga lebam. Di injak-injaknya setiap jari-jari besar tanpa ampun. 

"Marionette itu apa sih?" itu lho, boneka yang digerakkan dengan tali dari atas. Sempat populer beberapa tahun lalu. Di youtube juga banyak.

Jadi apa hubungannya sama judul diatas?

Marionette yang menang. Sumber : etsy.com
Sederhana lah bray, secara teori kan kita berhak memilih kita menjadi karakter seperti apa. Ingin jadi pendiam, jadi si ceria, jadi si pemikir atau jadi si penolong. Tapi seringkali kita tidak sadar. Ya kita tidak sadar kalau kita bisa memilih jadi orang seperti apa. Malah-malah kita tidak sadar juga kalau kita dijadika marionette oleh orang-orang lain. 

Ya seperti si marionette di cerita diatas, mungkin orang lain memuji kita, menganggap apa yang kita lakukan itu hebat. Tapi mereka tidak tahu kalau kita itu marionette yang dikendalikan orang lain. Atau mungkin juga kita sendiri tidak sadar kalau kita jadi marionette bagi orang lain. Kan lucu

Kita bisa lho membentuk karakter kita sendiri. Tapi yang jadi tantangan ya juga cukup jelas, yaitu pertarungan antara kita dan orang lain. Kalau kita tidak bisa membangung karakter kita, bisa jadi malah kita diberikan karakter-karakter dari orang lain yang sebenarnya tidak kita inginkan.