Cari Sesuatu?

Rabu, 31 Oktober 2018

Menemukan Tuhan dalam Tawa

"Hey kamu jangan pakai foto papa sama mama buat bercanda! Aku nggak suka kamu coret-coret foto papa jadi mirip badut kaya gitu." Aldo sang kakak betul-betul marah melihat adiknya menyulap foto bapak ibu mereka menjadi foto badut. Tinta spidol merah tercoret di sekitar gambar wajah orang tua mereka.

"Yah, nggak papa dong, kak. Kan wajah papa sama mama jadi lucu, Candra jadi senang lihat wajah papa mama yang lucu kaya gini."

"Kamu harus menghormati papa mama, tidak boleh gitu, tidak baik." Karena mereka semua laki-laki, perdebatan itu berlanjut dengan perkelahian hingga sang ibu melerai mereka.

Candra si adik pun menangis karena dia lebih muda dan tubuhnya lebih kecil dari kakaknya. Saat berkelahi sudah pasti si Candra kalah. Sang ibu meminta kedua anak itu menjelaskan mengapa mereka berkelahi. 

"Ma, Aldo sayang sama papa dan mama. Aldo nggak suka lihat foto mama jadi jelek kaya badut gini." Begitu Aldo menjelaskan kepada ibunya.

"Ma... maaf mama, maaf kalau Candra coret-coret foto papa sama mama. Candra juga sayang sama papa, sama mama juga. Candra nggak bermaksud jelek-jelekin mama. Candra cuma pingin mama sama papa kelihatan lucu supaya kita bisa ketawa bareng. Tapi bukan berarti Candra nggak sayang sama papa sama mama, Candra sayang sama papa, sama mama juga."

"Iya, mama tahu kalian semua sayang sama mama. Lain kali Candra jangan bikin kak Aldo marah ya jelasin baik-baik maksudnya Candra apa ke kakak, Aldo juga kalau ngasih tau adiknya jangan sambil marah-marah, seorang kakak harus mencontohkan yang baik ke adiknya. Mama nggak marah kok Candra coret-coret foto mama, sekarang kalau Aldo sama Candra sayang sama papa mama, salaman dulu, berdamai. Jangan berantem lagi, ya." Ungkap sang ibu mendamaikan kedua anaknya.

Komedi dan Tertawa

Saya (dan mungkin beberapa dari kawan-kawan juga) penyuka humor. Penikmat refleks yang muncul ketika otak menerima informasi yang lucu. Tertawa. Zaman serba internet memungkinkan saya untuk bisa mencari konten-konten komedi baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Ternyata komedi ini hampir seperti lagu. Ada jenis-jenis(genre)nya. Beragam jenis, beragam pula hal-hal yang menjadi bahan untuk konten komedi tersebut. Dari hal kehidupan sehari-hari sampai semua hal yang melintas di pikiran si pembuat, apapun itu, tanpa terkecuali.

Tuhan dan Ciptaan-Nya

Saya (dan pasti banyak dari kawan-kawan juga) pengagum Tuhan. Mengakui dan bangga bahwa kita adalah ciptaan-Nya. Penggemar berat Kuasa-Nya, pemuja keagungan-Nya, dan sepenuhnya terinspirasi oleh cinta-Nya. Zaman serba internet juga memungkinkan kita untuk bisa mencari banyak hal tentang Tuhan. Mencari lebih banyak bukti cinta-Nya kepada kita, menemukan lebih banyak cara untuk mengagumi-Nya, agar semakin dan semakin bangga akan Dia. Memilih Agama karena iman, terpanggil, sadar, dan secara kultural merasa sesuai dengan pilihan itu. Agama mendekatkan kita pada-Nya, bukan? 

 Kita --sang pengagum Tuhan-- berusaha sebaik mungkin untuk mengenal Dia. Bekerja keras mencari makna cinta-Nya yang begitu tulus dan misterius, berusaha total untuk memuja Dia dengan cara yang benar, dan berharap secara penuh agar dapat meraih kebahagiaan yang sempurna bersama-Nya kelak suatu hari nanti. Tuhan mengubah hidup banyak sekali orang.

Komedi tentang Tuhan

Dalam mencari konten komedi untuk hiburan, kadang saya menemukan komedi yang mengambil tema atau bahan dari Agama yang saya anut, dan Tuhan. Kebetulan komedi ini menggunakan bahasa asing, dan pembuatnya juga berasal dari luar negeri. Kebanyakan berbentuk gambar meme dan kicauan-kicauan di twitter. Awalnya saya kaget, dan mengutuk si pembuat karena konten Agama dan Tuhan yang biasanya sakral dan serius, seakan-akan direndahkan martabatnya, dan dijadikan bahan untuk membuat orang tertawa. "Agama kok dipakai untuk guyonan? Tuhan kok dibercandain?" pertanyaan-pertanyaan itu berputar di otak, bergantian seperti sipir-sipir gagah yang menjaga narapidana di sel mereka masing-masing. 

"Wah ini pasti yang membuat konten ini masuk neraka. Dosa besarlah orang-orang yang berani berbuat ini." Begitu saya mengutuk mereka, hingga saya menandai mereka sebagai penghina Tuhan. Siapa yang tidak emosi melihat idola, pujaan, inspirasi, dan panutannya setiap hari ditertawakan orang-orang? 

Positif

Semakin hari, semakin saya mengutuk para "Penghina Tuhan" itu, semakin bingung pula saya. Bukankah Tuhan berpesan agar jangan membenci orang lain? Saya juga pernah membaca salah satu tulisan dari Pengagum Tuhan yang lain, bahwa kita harus selalu berpikir positif terhadap Tuhan atas segala peristiwa yang terjadi, seburuk apapun itu. 

Lalu pikiranku berkembang sedikit, Tuhan. "A-haa" ucapnya dalam bahasa pikiran. Semua yang terjadi ternyata memang bisa membuatku semakin kagum pada-Mu. Engkau mampu hadir dan menunjukkan kekuasaan-Mu dalam berbagai bentuk, termasuk menjadi bahan komedi. Sesekali terkesan rendah hanya untuk membuatku terhibur dan tertawa. Hal yang aku sukai. Simpulku, Engkau semakin membuktikan bahwa Engkau tidak terbatas pada apapun, tidak terjangkau oleh apapun, melebihi segala definisi, maha dari segala maha. Maha segalanya.

Selain itu Engkau juga berhasil menegurku yang seenaknya mengutuk orang lain. Menyadarkanku bahwa aku bukan apa-apa, dan tidak berhak menuduh orang lain macam-macam. Mengingatkanku kembali tentang dalamnya hati manusia yang tidak ada seorangpun tahu bagaimana isinya. Barangkali mereka mengungkapkan cinta kepada-Mu dengan cara itu. Dalam pikiranku, Engkau berhasil membuktikan bahwa tidak ada yang bisa merendahkan-Mu.

Peristiwa
Akhir-akhir ini, di youtube juga ada peristiwa beberapa komedian "dimarahi" atau diperingatkan oleh beberapa pihak karena membuat hal-hal yang berkaitan dengan Tuhan dan Agama menjadi bahan bercanda. Saya percaya baik di pihak komedian itu maupun pihak yang mengingatkan mereka --atas perbuatan yang kelewatan-- sama-sama punya tujuan baik, sama-sama mencintai Tuhan, dan sama-sama mengagumi Tuhan dengan cara mereka masing-masing. Saya tidak bisa membahas lebih dalam karena keterbatasan pengetahuan saya tentang agama. Kita semua pasti berharap kedua pihak berdamai, karena perdamaian juga salah satu bentuk cinta kepada Tuhan. 

Aldo dan Candra, sama-sama menyayangi papa dan mamanya. Walau sempat bertengkar, mereka berdamai demi cinta yang lebih besar pada orang tua mereka.

Komedian dan pihak yang mengingatkan, sama-sama menyayangi Tuhan. Walau sempat bertengkar, (kita harap) mereka (juga bisa) berdamai demi cinta yang lebih besar pada Tuhan, dan tetap berteman, karena teman adalah anugerah dari Tuhan.



Catatan :
1. Mohon maaf bagi pemilik nama Aldo dan Candra, pinjam namanya untuk cerita ilustrasi.
2. Cerita ilustrasi dibuat bukan sebagai analogi kisah antara komedian dan pihak yang menegur komedian. Hanya untuk perbandingan. Beberapa mungkin ada yang sesuai, beberapa mungkin tidak sesuai.

Jumat, 02 Februari 2018

Selibat : Dimana Cinta Hadir dalam Bentuk yang Berbeda

Biasanya sabtu malam adalah malam yang santai. Setiap orang dari pelajar sampai yang sudah bekerja memakainya untuk bersantai dan membuang penat dan bosan dari rutinitas mingguan yang monoton. Jadwal-jadwal di hari sabtu dan minggu biasanya dibuat longgar, supaya sesuai dengan suasana akhir pekan yang santai dan menyenangkan. Jarang juga ada kegiatan-kegiatan serius yang dilaksanakan saat akhir pekan.

Tapi kebiasaan itu sedikit berbeda di lingkungan Pastoran Gereja Katolik Santo Agustinus Karawaci, Tangerang. Hari-hari akhir pekan adalah hari yang sibuk karena lingkungan gereja perlu melayani umat yang beribadah di hari sabtu dan minggu. Tak terkecuali ketiga pastor yang bertugas di gereja itu: Romo Warno, Romo Anton dan Romo Bowo.
*Romo adalah salah satu panggilan umat Katolik pada pada para pastor. Istilah "Romo" berarti "Bapa"

"Kalau ngajak janjian, jangan akhir pekan. Kalau akhir pekan kan kita ngantor." Begitu kata Romo Bowo dengan suasana humoris, ketika bersama anak-anak muda mengatur jadwal untuk wisata kuliner di lingkungan Kota Tangerang. Memang bila akhir pekan, terutama sabtu malam, para pastor selalu istirahat lebih cepat mengingat keesokan harinya mereka harus memimpin misa di gereja.
*Misa adalah perayaan Ekaristi yang diadakan setiap hari minggu dalam Gereja Katolik Roma

Hal itu hanya sedikit dari jutaan hal yang saya kagumi selama menjadi bagian dari gereja ini. Terutama mengagumi bagaimana para pastor merasakan bentuk cinta yang berbeda daripada umumnya. 

Hidup Selibat

Perlu diketahui, para pastor-pastor katolik memiliki pilihan hidup khusus yaitu memilih hidup tanpa menikah. Dengan proses yang sangat panjang dan berat, mereka belajar dan berlatih banyak hal agar bisa fokus melayani umat dengan seluruh jiwa dan raganya. Setahu saya, mereka meneladani pola hidup Yesus Kristus yang selama hidup-Nya tidak memiliki harta berlebih (kemiskinan), tidak menikah (kesucian) dan selalu patuh pada perintah Allah (ketaatan). Ketiga hal tersebut merupakan kaul (janji yang diucapkan oleh anggota religius) yang secara sadar mereka lakukan semasa hidupnya. Pilihan tidak menikah itulah yang menjadi makna kata "selibat".

Mengetahui tentang hidup selibat ini, pertanyaan yang muncul pertama kali di benak saya adalah :
Bagaimana mereka memaknai cinta bila tidak menikah? adakah pengalaman cinta yang kurang mereka rasakan?


Bentuk Cinta yang Berbeda

Satu bulan lebih hidup bersama para imam Gereja Katolik saya rasa lebih dari cukup untuk menyimpulkan bagaimana cinta dapat hadir dalam bentuk yang berbeda, namun maknanya tidak kalah dalam. Jangan kira dengan pilihan hidup mereka yang tidak menikah, mereka tidak memiliki sosok yang mencintai atau dicintai oleh mereka secara fokus. Justru cinta itu hadir dalam berbagai bentuk yang membuat saya sangat kagum.

PDKT

Para Imam Gereja Katolik biasanya tidak menetap di suatu gereja dalam waktu yang lama. Biasanya dalam waktu tertentu mereka dipindahtugaskan ke gereja di kota lain, lalu diganti dengan pastor baru dari kota lain pula. Biasanya pastor baru ini 'diperkenalkan' atau memperkenalkan diri sendiri pada saat misa. Dari sinilah masa PDKT dimulai. Selepas misa, pastor yang baru pindah menyapa para umat. Interaksi awal dengan umat dibangun dalam suasana yang hangat. Tidak jarang beberapa umat juga menyempatkan diri untuk mampir ke tempat tinggal pastor.

"Pastor ulang tahunnya tanggal berapa?" Begitu seorang ibu bertanya kepada Romo Bowo. Kebetulan Romo Bowo baru pindah dari Gereja Katolik Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Itu baru satu dari banyak pertanyaan yang diajukan kepada Romo Bowo. Kira-kira begitu suasana antara pastor dan umat melakukan PDKT. Sebelum selanjutnya, pastor dan para umat saling mencintai.

Saling Mencintai

"Ayo, Ngga! Ikut saya ke pemberkatan rumah." Ajak Romo Warno kepada saya yang kebetulan baru satu hari datang dan menginap di pastoran (tempat tinggal pastor) gereja. Tentu saja sang empunya rumah beserta warga katolik sekitar menyambut Romo Warno dengan ramah. Selepas ibadah, kami bercengkerama, mengobrol dan bercanda bersama-sama sebelum kami pulang. Saya dapat melihat bagaimana Romo Warno mempersiapkan segala sesuatu dengan baik sebelum berangkat memimpin ibadah pemberkatan rumah itu. Tidak berniat untuk berlebihan, namun saya dapat merasakan bagaimana cinta menuntun Romo Warno untuk mempersiapkan segalanya dengan baik. 

"Ini, Romo, makanannya bisa dibawa untuk cemilan atau teman makan siang." Kata salah satu pemilik rumah sambil memberikan beberapa bungkus makanan. Bukan hanya itu, di pastoran juga sering para pastor mendapatkan bingkisan makanan dari para umat yang dengan tulus ingin memberi. Memang yang diberikan hanyalah makanan atau barang-barang sederhana. Tapi secara tidak sadar ada cinta yang mondar-mandir diantara umat dan pastor dalam setiap interaksi yang dilakukan oleh mereka.

Hal yang saya ceritakan hanya sedikit dari banyak pengalaman saya melihat bahwa cinta hadir dalam bentuk yang biasanya kita lihat. Cinta bukan melulu antar sepasang kekasih, atau antar anggota keluarga. Dari gereja yang berhasil mengasuh saya selama dua bulan ini, saya melihat bentuk cinta yang unik antara pemuka agama dengan umatnya. Bentuknya tidak kalah indah dari cinta yang umumnya kita lihat.

*Gambar Diambil dari Dokumentasi Pribadi

Jumat, 19 Januari 2018

Pertemanan Formalitas

Dalam masa kerja praktek ini saya belajar banyak tentang sistim kontrak. Satu pihak mengerjakan sesuatu untuk pihak lain dengan pembayaran yang sudah ditetapkan dari awal. Hubungan antara dua lembaga itu diikat dalam satu kontrak, sampai tugas yang diberikan dan uang yang dibayarkan mencapai sama-sama 100%. Hal-hal dilakukan secara formal dan sistematis dengan aturan yang sudah disepakati. Setelah kontrak berakhir, tidak ada lagi hubungan antara satu pihak dengan yang lain. Itu adalah salah satu cara yang menghubungkan dua lembaga dengan cara yang formal. 

Formal
Apa sih formal itu? KBBI bilang kalau formal itu sama maknanya dengan resmi. Dalam kehidupan sehari-hari, makna formal sedikit turun menjadi "serius agak kaku" - ya itu kira-kira yang saya amati. Sedangkan formalitas itu dalam KBBI artinya sekadar mengikuti tata cara dan basa-basi. Saya pikir maknanya sedikit negatif.

Pertemanan
Apa itu Pertemanan? Tentu saja ini bukan nama SPBU, melainkan maknanya adalah perihal berteman. Jadi maksudnya adalah keadaan hubungan antara satu orang dengan orang lain yang adalah teman. Dalam berteman, kita tentu saja berharap agar pertemanan itu berlangsung lama, bukan?

Berteman adalah peristiwa yang unik. Kita dapat mengetahui banyak karakter yang berbeda dan menilainya. Kita juga bisa belajar banyak dari pertemanan yang kita lakukan, mengambil yang baik dari teman kita. Pepatah dulu kala berkata :
Seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak.
Barangkali itu tercipta oleh orang yang sangat puas dengan pertemanan yang dia jalani. Tapi kadang pertemanan tidak se-memuaskan itu untuk dijalani, karena banyak karakter manusia, banyak juga peluang untuk mendapatkan pengalaman baik atau buruk dalam berteman.

Misal saja orang yang membuat pertemanan hanya formalitas demi urusan sendiri. Tak sedikit orang-orang yang berteman hanya demi urusannya saja. Bila urusannya telah selesai, pertemanan pun usai. Seperti hubungan antara dua lembaga di proyek. Padahal pertemanan tidak bisa disamakan dengan kontrak proyek. Ada batin yang terlibat, bedanya adalah kedua batin itu berbeda ketebalan dan karakternya. Apakah anda termasuk orang yang seperti itu?

*Gambar diambil dari google tapi saya lupa link nya. Maaf

Kamis, 04 Januari 2018

Memaknai Pulang saat Belum Waktunya

Buku yang saya baca waktu itu menjadi tidak menarik lagi saat jendela gerbong Kereta Api Menoreh tujuan Stasiun Pasar Senen menawarkan pemandangan yang saya kenal. Pola berjeda antara persawahan dan rumah-rumah sederhana, hingga simpang sebidang rel kereta api dengan Jalan Dr. Wahidin, Jalan Kartini, hingga Jalan KH. Mas Mansyur, adalah urutan yang sangat mudah dihafal, oleh siapapun yang sering pulang ke Pekalongan dengan kereta dari arah timur.

Saat kereta berhenti di Stasiun Besar Pekalongan, sejenak saya merasakan pulang. Padahal sejatinya itu hanya lewat. Namun kali ini saya menolak bila hal itu dikatakan sebagai mampir. Batin ingin dipuaskan dengan kata pulang walau kereta hanya berhenti dalam 5 menit.

Lima menit itulah juga yang membawa imajinasi saya kepada situasi kampus. Tempat saya berkuliah memang memberi kesempatan mahasiswanya untuk merasakan rindu yang lebih dari mahasiswa lain. Rindu pada orang rumah, begitupun kampung halaman. Bagaimana tidak jika setiap akhir semester, setelah Ujian Akhir Semester, kebanyakan mahasiswa tidak dapat segera pulang ke kampung halaman masing-masing. Mereka harus menyelesaikan tugas besar, yang kebanyakan adalah perancangan bangunan, hingga yudisium atau masa ketika nilai mata kuliah di release. (Wah, panjang juga paragraf ini).

Pergi adalah masa awal untuk menumpuk kerinduan. Seperti yang dilakukan kawan-kawan di kampus saya ketika berangkat ke Semarang, atau siapapun anda yang beranjak dari tempat semula ke tempat lain. Selebihnya dari itu, pulang, adalah masa kita untuk menumpahkan rindu yang tertumpuk selama pergi.

Kawan saya dalam post blognya menulis :
Ternyata bener, bagi sebagian orang, jarak justru bisa memperkuat cinta. -www.insinyur-kata.tumblr.com-
Saya setuju dan saya pikir tulisan itu tidak berlebihan. Saat pergi, justru cinta kita kepada apa yang ditinggalkan bisa semakin kuat. Seperti cinta saya ke kota batik itu, yang belum lebih dari enam tahun saya tempati. Namun harus berpindah lagi dengan alasan cita-cita, lalu hanya sesekali pulang setiap tahunnya. 

Tapi siapa yang bisa mengatur besarnya cinta? Bukannya lupa, malah cinta itu semakin membesar. Ada rasa yang beda ketika pulang, melihat lalu lalang becak, warung nasi megono, Monumen 3 Oktober 1945, apalagi lapangan Jatayu. Dulu yang tampak biasa saja, sekarang mereka seperti menyimpan cerita yang tiba-tiba membombardir pikiran ketika mata ini tidak sengaja menoleh ke tempat itu. Saya yakin itu bukan rindu biasa pada sebuah tempat. Jangan-jangan itu cinta.

*Gambar diambil dari kamera handphone sendiri

Kamis, 06 April 2017

Membuat Keputusan : Antara Berani atau Bodoh

Keputusan. Pasti semua orang pernah membuat keputusan. Sebelum ada keputusan, pasti ada pilihan. Misalkan kamu di warteg mau makan sama ayam atau sama ikan, mau minum air putih atau es teh. Secara tidak sadar segala hal yang kita lalui dari mulai bangun pagi sampai tidur lagi adalah keputusan yang kita buat untuk diri sendiri. 

Misal pagi hari sekitar jam 5 pagi, kita memutuskan bangun atau tidur lagi. Jam 7 pagi kita secara tidak sadar dituntut untuk memutuskan mau sarapan atau skip sarapan sampai jadwal makan siang. Jam 8 pagi kita juga dituntut untuk memutuskan mau berangkat kuliah atau tidak. Semua itu keputusan yang kita buat untuk diri sendiri. 
Ilustrasi diambil dari http://www.huffingtonpost.com

Dari keputusan ini juga muncul hal lain. Kadang puas dengan keputusan kita, kadang kecewa juga. Semua orang pasti pernah merasakannya. Baik itu skala kecil, maupun skala besar. Yang repot adalah ketika keputusanmu salah, tapi skala keputusan itu besar, ditambah keputusan itu melibatkan banyak orang. Otomatis tanggung jawab kita dituntut untuk memperbaiki kesalahan itu.

Berbagai keputusan yang kita pilih saya ringkas menjadi dua jenis keputusan yaitu :

BERANI
Kamu dapat pilihan, memutuskan pilihan mana yang kamu ambil, menjalankan keputusanmu, dan kamu menikmatinya. Hal itu baru yang dinamakan berani. Berani adalah ketika keputusan kita sudah dipertimbangkan matang-matang sehingga di akhir kita tidak menyesal. Berani adalah ketika kita menghadirkan logika dalam keputusan kita. Memangkas segala resiko yang mungkin muncul, jadi kita tidak kelabakan saat menjalani keputusan itu.

Orang-orang yang terkenal dan sukses adalah contoh orang yang saya maksud berani. Orang yang menikmati hidupnya karena keputusan yang dia buat juga saya sebut orang yang berani. Karena goal yang paling sering dikejar orang adalah kebahagiaan. Oh iya ngomong-ngomong njenengan tau kebahagiaan apa yang sejati di dunia ini?

BODOH
Kamu dapat pilihan, kamu cuma lihat kulitnya / nggak lihat keseluruhan pilihan tersebut, memutuskan, menjalani, dan belakangan kamu kewalahan. Hal itu saya namakan bodoh. Bisa jadi keputusan itu dibuat karena kita tidak menghitung dengan teliti apa akibat yang muncul kalau kita mengambil keputusan itu. Misal kamu memutuskan karena alasan pertemanan, memutuskan karena kamu tergiur sesuatu, dan sebagainya. Akhirnya kamu nggak nyaman sama keputusan yang kamu jalani. Sungguh kebodohan.

Kita semua pasti pernah bodoh. Salah mengambil keputusan adalah hal yang pernah dibuat oleh semua orang. Ada yang bodohnya cuma sekali, habis itu langsung berani. Ada juga yang bodohnya perlu berkali-kali baru sampai pada tahap berani. Nah itu saya contohnya. Hehehe

***

Ketika kita membuat keputusan, kita sesunggunya dihadapkan pada dua persepsi orang lain terhadap kita. Berani, atau Bodoh. Jadi pikirkan matang-matang sebelum kamu membuat keputusan apapun itu.

Selamat siang