Cari Sesuatu?

Jumat, 02 Februari 2018

Selibat : Dimana Cinta Hadir dalam Bentuk yang Berbeda

Biasanya sabtu malam adalah malam yang santai. Setiap orang dari pelajar sampai yang sudah bekerja memakainya untuk bersantai dan membuang penat dan bosan dari rutinitas mingguan yang monoton. Jadwal-jadwal di hari sabtu dan minggu biasanya dibuat longgar, supaya sesuai dengan suasana akhir pekan yang santai dan menyenangkan. Jarang juga ada kegiatan-kegiatan serius yang dilaksanakan saat akhir pekan.

Tapi kebiasaan itu sedikit berbeda di lingkungan Pastoran Gereja Katolik Santo Agustinus Karawaci, Tangerang. Hari-hari akhir pekan adalah hari yang sibuk karena lingkungan gereja perlu melayani umat yang beribadah di hari sabtu dan minggu. Tak terkecuali ketiga pastor yang bertugas di gereja itu: Romo Warno, Romo Anton dan Romo Bowo.
*Romo adalah salah satu panggilan umat Katolik pada pada para pastor. Istilah "Romo" berarti "Bapa"

"Kalau ngajak janjian, jangan akhir pekan. Kalau akhir pekan kan kita ngantor." Begitu kata Romo Bowo dengan suasana humoris, ketika bersama anak-anak muda mengatur jadwal untuk wisata kuliner di lingkungan Kota Tangerang. Memang bila akhir pekan, terutama sabtu malam, para pastor selalu istirahat lebih cepat mengingat keesokan harinya mereka harus memimpin misa di gereja.
*Misa adalah perayaan Ekaristi yang diadakan setiap hari minggu dalam Gereja Katolik Roma

Hal itu hanya sedikit dari jutaan hal yang saya kagumi selama menjadi bagian dari gereja ini. Terutama mengagumi bagaimana para pastor merasakan bentuk cinta yang berbeda daripada umumnya. 

Hidup Selibat

Perlu diketahui, para pastor-pastor katolik memiliki pilihan hidup khusus yaitu memilih hidup tanpa menikah. Dengan proses yang sangat panjang dan berat, mereka belajar dan berlatih banyak hal agar bisa fokus melayani umat dengan seluruh jiwa dan raganya. Setahu saya, mereka meneladani pola hidup Yesus Kristus yang selama hidup-Nya tidak memiliki harta berlebih (kemiskinan), tidak menikah (kesucian) dan selalu patuh pada perintah Allah (ketaatan). Ketiga hal tersebut merupakan kaul (janji yang diucapkan oleh anggota religius) yang secara sadar mereka lakukan semasa hidupnya. Pilihan tidak menikah itulah yang menjadi makna kata "selibat".

Mengetahui tentang hidup selibat ini, pertanyaan yang muncul pertama kali di benak saya adalah :
Bagaimana mereka memaknai cinta bila tidak menikah? adakah pengalaman cinta yang kurang mereka rasakan?


Bentuk Cinta yang Berbeda

Satu bulan lebih hidup bersama para imam Gereja Katolik saya rasa lebih dari cukup untuk menyimpulkan bagaimana cinta dapat hadir dalam bentuk yang berbeda, namun maknanya tidak kalah dalam. Jangan kira dengan pilihan hidup mereka yang tidak menikah, mereka tidak memiliki sosok yang mencintai atau dicintai oleh mereka secara fokus. Justru cinta itu hadir dalam berbagai bentuk yang membuat saya sangat kagum.

PDKT

Para Imam Gereja Katolik biasanya tidak menetap di suatu gereja dalam waktu yang lama. Biasanya dalam waktu tertentu mereka dipindahtugaskan ke gereja di kota lain, lalu diganti dengan pastor baru dari kota lain pula. Biasanya pastor baru ini 'diperkenalkan' atau memperkenalkan diri sendiri pada saat misa. Dari sinilah masa PDKT dimulai. Selepas misa, pastor yang baru pindah menyapa para umat. Interaksi awal dengan umat dibangun dalam suasana yang hangat. Tidak jarang beberapa umat juga menyempatkan diri untuk mampir ke tempat tinggal pastor.

"Pastor ulang tahunnya tanggal berapa?" Begitu seorang ibu bertanya kepada Romo Bowo. Kebetulan Romo Bowo baru pindah dari Gereja Katolik Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Itu baru satu dari banyak pertanyaan yang diajukan kepada Romo Bowo. Kira-kira begitu suasana antara pastor dan umat melakukan PDKT. Sebelum selanjutnya, pastor dan para umat saling mencintai.

Saling Mencintai

"Ayo, Ngga! Ikut saya ke pemberkatan rumah." Ajak Romo Warno kepada saya yang kebetulan baru satu hari datang dan menginap di pastoran (tempat tinggal pastor) gereja. Tentu saja sang empunya rumah beserta warga katolik sekitar menyambut Romo Warno dengan ramah. Selepas ibadah, kami bercengkerama, mengobrol dan bercanda bersama-sama sebelum kami pulang. Saya dapat melihat bagaimana Romo Warno mempersiapkan segala sesuatu dengan baik sebelum berangkat memimpin ibadah pemberkatan rumah itu. Tidak berniat untuk berlebihan, namun saya dapat merasakan bagaimana cinta menuntun Romo Warno untuk mempersiapkan segalanya dengan baik. 

"Ini, Romo, makanannya bisa dibawa untuk cemilan atau teman makan siang." Kata salah satu pemilik rumah sambil memberikan beberapa bungkus makanan. Bukan hanya itu, di pastoran juga sering para pastor mendapatkan bingkisan makanan dari para umat yang dengan tulus ingin memberi. Memang yang diberikan hanyalah makanan atau barang-barang sederhana. Tapi secara tidak sadar ada cinta yang mondar-mandir diantara umat dan pastor dalam setiap interaksi yang dilakukan oleh mereka.

Hal yang saya ceritakan hanya sedikit dari banyak pengalaman saya melihat bahwa cinta hadir dalam bentuk yang biasanya kita lihat. Cinta bukan melulu antar sepasang kekasih, atau antar anggota keluarga. Dari gereja yang berhasil mengasuh saya selama dua bulan ini, saya melihat bentuk cinta yang unik antara pemuka agama dengan umatnya. Bentuknya tidak kalah indah dari cinta yang umumnya kita lihat.

*Gambar Diambil dari Dokumentasi Pribadi

Jumat, 19 Januari 2018

Pertemanan Formalitas

Dalam masa kerja praktek ini saya belajar banyak tentang sistim kontrak. Satu pihak mengerjakan sesuatu untuk pihak lain dengan pembayaran yang sudah ditetapkan dari awal. Hubungan antara dua lembaga itu diikat dalam satu kontrak, sampai tugas yang diberikan dan uang yang dibayarkan mencapai sama-sama 100%. Hal-hal dilakukan secara formal dan sistematis dengan aturan yang sudah disepakati. Setelah kontrak berakhir, tidak ada lagi hubungan antara satu pihak dengan yang lain. Itu adalah salah satu cara yang menghubungkan dua lembaga dengan cara yang formal. 

Formal
Apa sih formal itu? KBBI bilang kalau formal itu sama maknanya dengan resmi. Dalam kehidupan sehari-hari, makna formal sedikit turun menjadi "serius agak kaku" - ya itu kira-kira yang saya amati. Sedangkan formalitas itu dalam KBBI artinya sekadar mengikuti tata cara dan basa-basi. Saya pikir maknanya sedikit negatif.

Pertemanan
Apa itu Pertemanan? Tentu saja ini bukan nama SPBU, melainkan maknanya adalah perihal berteman. Jadi maksudnya adalah keadaan hubungan antara satu orang dengan orang lain yang adalah teman. Dalam berteman, kita tentu saja berharap agar pertemanan itu berlangsung lama, bukan?

Berteman adalah peristiwa yang unik. Kita dapat mengetahui banyak karakter yang berbeda dan menilainya. Kita juga bisa belajar banyak dari pertemanan yang kita lakukan, mengambil yang baik dari teman kita. Pepatah dulu kala berkata :
Seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak.
Barangkali itu tercipta oleh orang yang sangat puas dengan pertemanan yang dia jalani. Tapi kadang pertemanan tidak se-memuaskan itu untuk dijalani, karena banyak karakter manusia, banyak juga peluang untuk mendapatkan pengalaman baik atau buruk dalam berteman.

Misal saja orang yang membuat pertemanan hanya formalitas demi urusan sendiri. Tak sedikit orang-orang yang berteman hanya demi urusannya saja. Bila urusannya telah selesai, pertemanan pun usai. Seperti hubungan antara dua lembaga di proyek. Padahal pertemanan tidak bisa disamakan dengan kontrak proyek. Ada batin yang terlibat, bedanya adalah kedua batin itu berbeda ketebalan dan karakternya. Apakah anda termasuk orang yang seperti itu?

*Gambar diambil dari google tapi saya lupa link nya. Maaf

Kamis, 04 Januari 2018

Memaknai Pulang saat Belum Waktunya

Buku yang saya baca waktu itu menjadi tidak menarik lagi saat jendela gerbong Kereta Api Menoreh tujuan Stasiun Pasar Senen menawarkan pemandangan yang saya kenal. Pola berjeda antara persawahan dan rumah-rumah sederhana, hingga simpang sebidang rel kereta api dengan Jalan Dr. Wahidin, Jalan Kartini, hingga Jalan KH. Mas Mansyur, adalah urutan yang sangat mudah dihafal, oleh siapapun yang sering pulang ke Pekalongan dengan kereta dari arah timur.

Saat kereta berhenti di Stasiun Besar Pekalongan, sejenak saya merasakan pulang. Padahal sejatinya itu hanya lewat. Namun kali ini saya menolak bila hal itu dikatakan sebagai mampir. Batin ingin dipuaskan dengan kata pulang walau kereta hanya berhenti dalam 5 menit.

Lima menit itulah juga yang membawa imajinasi saya kepada situasi kampus. Tempat saya berkuliah memang memberi kesempatan mahasiswanya untuk merasakan rindu yang lebih dari mahasiswa lain. Rindu pada orang rumah, begitupun kampung halaman. Bagaimana tidak jika setiap akhir semester, setelah Ujian Akhir Semester, kebanyakan mahasiswa tidak dapat segera pulang ke kampung halaman masing-masing. Mereka harus menyelesaikan tugas besar, yang kebanyakan adalah perancangan bangunan, hingga yudisium atau masa ketika nilai mata kuliah di release. (Wah, panjang juga paragraf ini).

Pergi adalah masa awal untuk menumpuk kerinduan. Seperti yang dilakukan kawan-kawan di kampus saya ketika berangkat ke Semarang, atau siapapun anda yang beranjak dari tempat semula ke tempat lain. Selebihnya dari itu, pulang, adalah masa kita untuk menumpahkan rindu yang tertumpuk selama pergi.

Kawan saya dalam post blognya menulis :
Ternyata bener, bagi sebagian orang, jarak justru bisa memperkuat cinta. -www.insinyur-kata.tumblr.com-
Saya setuju dan saya pikir tulisan itu tidak berlebihan. Saat pergi, justru cinta kita kepada apa yang ditinggalkan bisa semakin kuat. Seperti cinta saya ke kota batik itu, yang belum lebih dari enam tahun saya tempati. Namun harus berpindah lagi dengan alasan cita-cita, lalu hanya sesekali pulang setiap tahunnya. 

Tapi siapa yang bisa mengatur besarnya cinta? Bukannya lupa, malah cinta itu semakin membesar. Ada rasa yang beda ketika pulang, melihat lalu lalang becak, warung nasi megono, Monumen 3 Oktober 1945, apalagi lapangan Jatayu. Dulu yang tampak biasa saja, sekarang mereka seperti menyimpan cerita yang tiba-tiba membombardir pikiran ketika mata ini tidak sengaja menoleh ke tempat itu. Saya yakin itu bukan rindu biasa pada sebuah tempat. Jangan-jangan itu cinta.

*Gambar diambil dari kamera handphone sendiri

Kamis, 06 April 2017

Membuat Keputusan : Antara Berani atau Bodoh

Keputusan. Pasti semua orang pernah membuat keputusan. Sebelum ada keputusan, pasti ada pilihan. Misalkan kamu di warteg mau makan sama ayam atau sama ikan, mau minum air putih atau es teh. Secara tidak sadar segala hal yang kita lalui dari mulai bangun pagi sampai tidur lagi adalah keputusan yang kita buat untuk diri sendiri. 

Misal pagi hari sekitar jam 5 pagi, kita memutuskan bangun atau tidur lagi. Jam 7 pagi kita secara tidak sadar dituntut untuk memutuskan mau sarapan atau skip sarapan sampai jadwal makan siang. Jam 8 pagi kita juga dituntut untuk memutuskan mau berangkat kuliah atau tidak. Semua itu keputusan yang kita buat untuk diri sendiri. 
Ilustrasi diambil dari http://www.huffingtonpost.com

Dari keputusan ini juga muncul hal lain. Kadang puas dengan keputusan kita, kadang kecewa juga. Semua orang pasti pernah merasakannya. Baik itu skala kecil, maupun skala besar. Yang repot adalah ketika keputusanmu salah, tapi skala keputusan itu besar, ditambah keputusan itu melibatkan banyak orang. Otomatis tanggung jawab kita dituntut untuk memperbaiki kesalahan itu.

Berbagai keputusan yang kita pilih saya ringkas menjadi dua jenis keputusan yaitu :

BERANI
Kamu dapat pilihan, memutuskan pilihan mana yang kamu ambil, menjalankan keputusanmu, dan kamu menikmatinya. Hal itu baru yang dinamakan berani. Berani adalah ketika keputusan kita sudah dipertimbangkan matang-matang sehingga di akhir kita tidak menyesal. Berani adalah ketika kita menghadirkan logika dalam keputusan kita. Memangkas segala resiko yang mungkin muncul, jadi kita tidak kelabakan saat menjalani keputusan itu.

Orang-orang yang terkenal dan sukses adalah contoh orang yang saya maksud berani. Orang yang menikmati hidupnya karena keputusan yang dia buat juga saya sebut orang yang berani. Karena goal yang paling sering dikejar orang adalah kebahagiaan. Oh iya ngomong-ngomong njenengan tau kebahagiaan apa yang sejati di dunia ini?

BODOH
Kamu dapat pilihan, kamu cuma lihat kulitnya / nggak lihat keseluruhan pilihan tersebut, memutuskan, menjalani, dan belakangan kamu kewalahan. Hal itu saya namakan bodoh. Bisa jadi keputusan itu dibuat karena kita tidak menghitung dengan teliti apa akibat yang muncul kalau kita mengambil keputusan itu. Misal kamu memutuskan karena alasan pertemanan, memutuskan karena kamu tergiur sesuatu, dan sebagainya. Akhirnya kamu nggak nyaman sama keputusan yang kamu jalani. Sungguh kebodohan.

Kita semua pasti pernah bodoh. Salah mengambil keputusan adalah hal yang pernah dibuat oleh semua orang. Ada yang bodohnya cuma sekali, habis itu langsung berani. Ada juga yang bodohnya perlu berkali-kali baru sampai pada tahap berani. Nah itu saya contohnya. Hehehe

***

Ketika kita membuat keputusan, kita sesunggunya dihadapkan pada dua persepsi orang lain terhadap kita. Berani, atau Bodoh. Jadi pikirkan matang-matang sebelum kamu membuat keputusan apapun itu.

Selamat siang

Jumat, 20 Mei 2016

Bertemu Orang Banyak [Inilah Keuntungan kalau Punya Relasi Banyak]

Beberapa hari terakhir saya mengikuti kegiatan organisasi yang menuntut saya untuk bertemu banyak orang. Hal yang termasuk jarang di kehidupan kuliah saya ini. Entah kenapa, sikap ekstrovert yang biasa keluar spontan dari diri saya selama SMA pelan-pelan berkurang. Sekarang saya harus pilih-pilih untuk menunjukkan sikap asli saya yang ekstrovert. Belakangan saya baru tau bahwa itu kepribadian ambivert.

Bertemu Orang Banyak?
Ilustrasi Banyak Teman. Sumber: sebastienmillon.com
Yak, fokus pembahasan di catatan saya kali ini ya bertemu orang banyak. Banyak orang-orang menyebutnya relasi, networking, dan kata-kata model lain. Bertemu banyak orang lain adalah salah satu cara untuk menambah jaringan pertemanan atau networking (bahasa kerennya). Sebenarnya apa keuntungan jaringan pertemanan tersebut?

Singkat kata kemarin malam saya dapat kesempatan ngobrol-ngobrol dalam kelompok kecil bareng mas Dico, yang empunya Dokter Laptop di Semarang. Nah dari obrolan itulah beliau memberikan petuah-petuah gratis tentang pentingnya jaringan pertemanan. Sambil mengobrol santai, beberapa pesan dari mas Dico adalah :

Mempermudah Peluang Bisnis
Dengan latar belakang pebisnis atau pengusaha, mas Dico berkata kira-kira seperti ini: "Kalau banyak relasi, peluang bisnis bisa lebih gampang didapetin. Biasanya ide bisnis itu nggak sengaja muncul waktu kita ngobrol bareng teman. Banyak teman, banyak ngobrol, banyak rejeki." begitu katanya.

Menambah Pelanggan Usahamu
Masih dengan latar belakangnya sebagai pengusaha, mas Dico melanjutkan pembicaraannya. "Begitu juga kalau kamu sudah memiliki usha. Siapa orang yang pertama kali beli produk kamu? Pasti teman sendiri kan? Banyak teman, banyak pelanggan." katanya.

Tidak Tersesat Dimanapun
Nah sekarang beliau berbicara sebagai anggota dari Hipmi. "Kita kan sudah sama-sama ada di Hipmi. Nah jaringan Hipmi ini harus kita manfaatkan. Hipmi ini adalah jaringan yang luas, kalian ada dimanapun di seluruh Indonesia, tidak akan pernah tersesat. Tinggal kontak sama anggota Hipmi di daerah situ, aman kalian". Begitu katanya panjang lebar.

Banyak teman memang asik. Di internet juga banyak bahasan-bahasan yang bilang kalau punya banyak teman itu bagus. Ada yang bilang cita-citanya lebih cepat tercapai, memahami banyak sifat yang berbeda, lebih mudah menciptakan terobosan hidup, dan yang lain-lain. Bahkan kawan-kawan sendiri juga dapat menyebutkan apa keuntungan banyak teman


Jadi masih berpikir untuk punya teman sedikit saja?