Cari Sesuatu?

Minggu, 10 Mei 2015

Moral dan Televisi

Ilustrasi TV (http://techcrunch.com/)
Isu terhangat di Indonesia terdiri dari dua jenis yaitu isu besar dan kecil. Memang bila pada tahun 2015 ini Indonesia terfokus pada beberapa kegiatan besar yang menjadi trend seperti MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) 2015, KAA (Konferensi Asia Afrika) 2015, dan banyak yang lainnya. Namun ibarat pepatah “Retak menanti belah” , ada isu kecil yang perlu diperhatikan negara supaya tidak berubah menjadi kesulitan besar bagi negara ini. Ini merupakan tantangan bagi bangsa Indonesia bukan hanya pemerintah saja maupun rakyatnya saja, melainkan keseluruhan.
Dari beragam masalah yang diberitakan oleh situs-situs berita maupun berita redaksi di televisi, ada salah satu berita mengenai meninggalnya seorang anak usia sekolah dasar karena perkelahian. Ironisnya perkelahian tersebut dilakukan karena terinspirasi dari acara serial TV atau sinetron yang belum lama ini mulai tayang di salah satu stasiun TV Swasta di Indonesia. Peristiwa ini mengingatkan kita dengan kasus yang serupa yaitu perkelahian anak usia sekolah dasar berujung kematian yang disebabkan karena terinspirasi oleh acara gulat gaya bebas yang sempat booming hampir satu dekade lalu. Lalu mengapa hal ini dapat terjadi ?
Stasiun televisi adalah media informasi yang sangat populer di Indonesia. Kebanyakan warga Indonesia menghabiskan rata-rata 4,5 jam dalam sehari untuk menonton televisi. Hal itu dinilai sangat besar prosentasenya karena di negara Amerika Serikat saja orang-orang hanya menghabiskan waktu rata-rata dua jam saja untuk menonton acara televisi. Namun demikian, seiring dengan lamanya durasi masyarakat Indonesia menonton televisi, hal itu tidak diimbangi dengan kualitas acara yang diberikan. Seringkali kita menemukan acara yang populer namun isi dari acara tersebut tidak sebanding dengan popularitasnya alias isinya tidak berbobot.
Fungsi televisi bagi masyarakat adalah sebagai sarana infomasi, edukasi dan rekreasi. Di Indonesia sendiri, stasiun televisi lebih banyak memberikan fungsi rekreasi daripada fungsi yang lainnya. Saking banyaknya acara yang berfungsi rekreasi daripada acara yang informatif dan edukatif, dikhawatirkan dapat berpengaruh buruk terhadap kondisi kualitas Sumber Daya Manusia di Indonesia baik anak-anak maupun dewasa. Terlebih bagi anak-anak, resikonya berlipat ganda karena tahap anak-anak merupakan tahap meniru apa saja yang dilihatnya. Bisa dibayangkan jika anak-anak di Indonesia menonton acara televisi yang salah dan menirunya. Akan terjadi banyak ironi yang semakin memperburuk keadaan di Bumi Pertiwi ini.
Berkaitan dengan sensor acara televisi, lembaga LSI dan KPI sudah berbenah dalam proses sensornya. Namun sensor yang dilakukan tersebut saya nilai tidak tepat sasaran. Contoh kasusnya jika kita menonton acara film di malam hari banyak adegan-adegan kekerasan maupun baku hantam yang dipotong. Selain itu adegan yang mempertontonkan rokok dan (maaf) belahan dada wanita di blur. Hal itu terkesan berlebihan dan berdampak lain seperti kehilangan esensi film, penggambaran karakter tokoh dan sebagainya. Perlu diketahui fungsi rokok di film-film berkelas holywood bukan hanya untuk gaya-gayaan saja seperti alasan anak muda di Indonesia untuk merokok, melainkan sebagai penggambaran karakter tokoh supaya pesan yang disampaikan si penulis cerita dapat lebih tepat sampai ke penonton. Apalagi adegan baku hantam dan pertumpahan darah itu merupakan penanda bahwa genre film adalah film action. Kesan menonton film action tanpa adegan baku hantam dan pertumpahan darah adalah bagai makan sayur bayam tanpa sayur bayam itu sendiri. Bagaikan minum sirup tanpa sirup itu sendiri.
Beralih ke acara yang berasal dari produksi dalam negeri, disini malah pengawasannya tidak terlalu ketat. Malah hal ini berdampak sangat buruk. Acara produksi dalam negeri banyak dipilih sebagian besar masyarakat Indonesia karena sesuai dengan budaya dan pola tingkah laku masyarakat yang menonton. Disini saya rangkum beberapa kekurangan yang dimiliki oleh acara TV yang dapat berdampak besar bagi siapapun yang menontonnya.
  1. Budaya Kemewahan yang Tidak sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia.
  2. Banyak konsep dan Ide cerita yang kemasannya tidak realistis (kebanyakan didapat pada acara TV Movie).
  3. Kemasan realistis, tapi ide cerita yang tidak berujung (terdapat pada sinetron-sinetron)
  4. Tokoh utama dalam acara sinetron / TV Movie yang tidak dapat menjadi contoh bagi penonton.

Hal itu merupakan beberapa hal yang memberi dampak besar bagi para penonton. Budaya kemewahan tentu saja tidak sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia karena masih terdapat kemiskinan. Kemasan cerita tidak realistis misalnya pada acara TV Movie sering diperlihatkan wanita berusia remaja beranjak dewasa yang berprofesi sebagai penjual gorengan, penarik becak, dan sebagainya sehingga kesan tidak realistis terlihat jelas. Ide cerita yang tidak berujung ditemukan di acara sinetron yang memiliki ratusan bahkan ribuan episode. Hingga tokoh utama yang selalu pasrah kepada keadaan namun pada akhirnya tetap menang di akhir cerita. Bahkan yang sering diperlihatkan pada cerita adalah perjuangan ‘si jahat’ menyiksa ‘si baik’ daripada perjuangan tokoh utama melawan kesulitan yang dihadapinya. Lantas apa penyebab kekurangan tersebut dibiarkan malah semakin banyak bermunculan ?
Jawabannya adalah kecenderungan media televisi Indonesia berorientasi pada profit daripada kualitas acara yang dipersembahkan bagi penonton. Keuntungan didapat dari iklan yang dipasang pada setiap jeda-jeda acara televisi. Iklan datang dari seberapa banyak rating yang diperoleh oleh acara tersebut. Bicara soal rating, hal ini membawa masyarakat sebagai penonton sebagai pelaku dari lingkaran setan buruknya kualitas acara TV dalam negeri. Dinilai kebanyakan acara TV yang tidak mempunyai fungsi edukatif dan informatif malah banyak ditonton oleh masyarakat Indonesia dan ini berdampak pada meningkatnya rating acara tersbut menjamurnya acara-acara TV yang kurang bermanfaat. Memang salah satu tujuan televisi adalah sebagai sarana rekreasi. Tapi dapatkah masyarakat Indonesia memilih hiburan mana yang tidak hanya sekedar hiburan? Selain itu apakah penyedia acara televisi tidak dapat membuat acara hiburan namun tidak kehilangan sisi informatif dan edukatif yang merupakan tujuan awal dari televisi itu sendiri ?
Kesimpulan
            Ada tiga fokus utama dalam pembahasan ini yaitu Media, Lembaga Sensor dan Masyarakat. Sebaiknya media segera beralih dari tujuan profit oriented  menjadi tujuan yang mendidik dan informatif bagi para pemirsa agar kita bisa mengejar ketertinggalan dengan bangsa lain. Untuk lembaga sensor dalam hal ini LSI dan KPI mengubah orientasi sensor dari kemasan ke isi / bobot dari acara tersebut karena isi acara lebih berdampak daripada kemasan acara. Sedangkan masyarakat sebaiknya pandai memilih acara yang baik dan tidak terlena oleh sandiwara-sandiwara yang hanya sandiwara saja.

Senin, 04 Mei 2015

Gunung Prau, Wonosobo. Sebuah Pesan dari Alam

Kabut yang dingin semakin memeluk tubuh kami yang baru beberapa saat sampai di puncak Gunung Prau, Wonosobo. Seketika banyak pesan yang hendak disampaikan Tuhan melalui puncak yang megah beserta kemewahan alam yang disajikannya. Tidak berapa lama setelah puncak Prahu kami jelajahi, sebelum kondisi dingin tidak dapat kami kendalikan lagi, kamipun turun lebih cepat dari jadwal yang sudah direncanakan.

Pemandangan Gunung Sindoro dan Sumbing dari Bukit Teletubbies
Sumber : train835.rssing.com
Melepas penat sehabis UTS, kami memilih gunung Prau untuk menjadi tujuan wisata. Salah satu primadona dari kota Wonosobo ini memiliki keindahan alam yang luar biasa dan menarik untuk dikunjungi. Ditambah lagi dengan keramahan dan kehangatan masyarakat Dieng menyambut setiap pendaki yang datang semakin menjadi alasan para pendaki untuk kembali berkunjung ke Wonosobo. Butuh tiga hingga empat jam perjalanan dari ibu kota Jawa Tengah untuk mencapai base camp pendakian gunung Prau. Sesampainya di Dieng, segera kami disambut oleh kehangatan penduduk Dieng. 

Pukul dua dini hari perjalanan menuju puncak dimulai. Hawa sejuk dingin menjadi kawan kami saat mendaki. Berbekal peralatan dan doa, medan pendakian dari base camp Patakbanteng yang dikenal terjal mulai kami susuri perlahan. Formasi berjalan dengan jarak antar orang yang rapat kami pilih karena puncak Prahu menjadi puncak pertama bagi kebanyakan anggota tim. Gunung Prau memiliki ketinggian 2565 MDPL dengan klasifikasi gunung kecil bukan api. Banyak pendaki yang bergegas berangkat dini hari untuk mengejar Golden Sunrise milik Puncak Prau yang di-klaim sebagai Golden Sunrise yang terbaik se-Asia Tenggara.

Perjalanan dari base camp  Patakbanteng menuju puncak melewati tiga pos. Pos pertama yang harus dilalui bernama Sikut Dewo. Diadakan pengecekan bukti retribusi demi keamanan dan kenyamanan seluruh pendaki. Jalan yang sebelumnya menanjak dan berbatu rapi berubah menjadi jalan setapak agak terjal dengan pemandangan kiri dan kanan perkebunan kentang. Atmosfer pendakian gunung semakin terasa ketika melalui rute setelah pos pertama. Tentu saja udara dingin dan gerimis kecil tetap menjadi kawan kami sepanjang perjalanan.

Hampir satu jam setelah kami melewati pos Sikut Dewo, tibalah kami di pos Canggal Walangan yang merupakan pos kedua yang digunakan banyak pendaki untuk beristirahat karena ada tempat landai yang cukup luas. Kondisi jalan yang kami lalui berbentuk seperti anak tangga ang kadang landai namun seringkali curam. Keindahan alam sedikit terganggu dengan hadirnya sampah walau kebanyakan sampah yang ada berukuran kecil, Seperti dosa, kecil ataupun besar tetaplah dosa, sampah pun juga demikian. Dalam perjalanan hingga pos ketiga yang bernama Canggal Walangan, pemandangan anak tangga dan perkebunan masih khas disekitar kami. Walau jarak pandang hanya beberapa langkah kedepan karena kabut, namun masih saja terasa harmoni alam yang mengalun disepanjang perjalanan. Alam yang dijaga agar tetap asri oleh siapa saja pecinta alam yang lewat, berbeda jauh dengan kebanyakan tanah yang menjadi korban rakusnya penguasa yang hanya berpacu mendapatkan uang sebanyak-banyaknya.

Dari kejauhan mulai terlihat kemah-kemah berdiri. Semakin dekat semakin banyak terlihat, dari situ kami mulai sadar bahwa perjalanan kami akan segera mencapai puncaknya. "Sunrise Camp" itulah nama tempat bertopografi lebih landai dari rute yang telah kami lalui, yang menjadi pilihan para pendaki lain untuk tidur maupun beristirahat sembari menunggu matahari terbit. Ada banyak sekali kemah yang dibangun disana. Libur akhir pekan yang panjang dan pemandangan indah yang ditawarkan oleh gunung Prau menjadi daya tarik para pendaki untuk mengunjungi Anugerah Tuhan Semesta Alam di Wonosobo ini.

Keindahan daerah wisata Dieng dari POS I, Sikut Dewo
Sumber : Dokumentasi Pribadi
Beberapa bukit dan lembah dilalui, sampailah kami di ketinggian 2565 Meter Diatas Permukaan Laut. Inilah puncak Prau, keindahan alam yang megah tersembunyi dibalik kehangatan dan ramah tamah Kabupaten Wonosobo. Inilah ujung rute pendakian yang mengubah lelah yang kami rasakan menjadi kebahagiaan. Puncak yang berkabut membuat kami tidak dapat menikmati Golden Sunrise terbaik se-Asia Tenggara. Namun tak sedikitpun mengurangi rasa syukur kami karena dapat melihat besarnya kuasa alam. Besarnya Kuasa Tuhan sang Pencipta Alam Semesta ini.

Gunung Prau mewakili alam semesta memberi pesan sangat berharga pada setiap penikmat keindahan alam yang datang kepadanya. Tingginya gunung dan alam yang megah memberikan pesan kepada kita (manusia). Betapa kecilnya kita (manusia) jika dibandingkan dengan gunung. Betapa kecilnya kita (manusia) jika dibandingkan dengan alam. Betapa kecilnya kita (manusia), jika dibandingkan dengan Tuhan, Sang Pencipta Alam Semesta. Jadi pantaskah jika kita memiliki sifat sombong ?


Postingan artikel ini diikutsertakan dalam ‪#‎NJFWonosobo2015‬


#NJFWonosobo2015